Video Siswi SMPN 1 Tanete Nyanyikan Lagu Rohani Kristen Beredar, Disdik Luwu Turun Tangan
LUWU — Sejumlah siswi Muslim SMP Negeri 1 Tanete, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian setelah video yang memperlihatkan mereka menyanyikan lagu rohani Kristen beredar di masyarakat. Video tersebut kemudian mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu, Andi Palanggi, mendatangi SMPN 1 Tanete, Kamis (1/10/2026), untuk meminta klarifikasi terkait video tersebut. Dari hasil klarifikasi, para siswi diketahui sebelumnya menghadiri rumah duka atas meninggalnya orangtua salah seorang teman mereka. Menurut keterangan kepala sekolah dan kepala desa, kehadiran mereka merupakan spontanitas sebagai bentuk kepedulian dan toleransi terhadap keluarga yang sedang berduka.
“Menurut kepala sekolah dan Pak Desa, itu spontanitas dan di masyarakat merupakan hal yang biasa. Makanya saya jelaskan, batasan toleransinya harus jelas,” kata Andi Palanggi. Ia mengatakan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu akan memberikan sanksi tertulis agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Guru juga diminta memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bentuk toleransi antarumat beragama.
“Kami akan berikan sanksi tertulis agar tidak berulang. Kami juga sampaikan agar guru-guru wajib memberikan pemahaman kepada siswa terkait bentuk toleransi perbedaan agama, agar tidak salah dalam pemaknaan,” ujarnya. Menurut Andi, pembinaan diperlukan agar siswa memahami toleransi dalam kehidupan bermasyarakat tanpa menimbulkan kekeliruan dalam menjalankan keyakinan masing-masing.
Sementara itu, pemerhati pendidikan di Luwu, Rahman, mengatakan pemahaman mengenai toleransi antarumat beragama perlu ditanamkan sejak dini. Menurut dia, toleransi dapat diwujudkan dengan menghargai kebebasan orang lain dalam menjalankan ibadah dan keyakinannya. “Jangan salah memahami arti toleransi. Menghormati orang lain melaksanakan keyakinannya adalah bentuk toleransi, bukan ikut kegiatan agamanya,” kata Rahman. Ia menilai kepala sekolah dan guru memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai arti toleransi dan batas-batasnya.
Related Articles